Ustadz Yudin: Bagaimana Meneladani Rasulullah SAW | PERUMDA PASAR PAKUAN JAYA
24 | 22 30 November 2018 | Dilihat: 1572 Kali | Cetak

Ustadz Yudin: Bagaimana Meneladani Rasulullah SAW


Ustadz Yudin: Bagaimana Meneladani Rasulullah SAW

PDPPJKOTABOGOR.COM,  Bogor - Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PDPPJ) kembali menggelar pengajian bulanan, Jum’at (30/11). Pengajian dilaksanakan di Mesjid Nurul Iman, Plaza Bogor. Pengajian tersebut dibuka dengan pembacaan Ayat Suci Al-Quran yang dilanjutkan dengan sambutan dari Plt. Direktur Umum PDPPJ, Jenal Abidin.

Jenal memberikan semangatnya kepada seluruh pegawai PDPPJ dalam sambutannya, dan mengharapkan pegawainya memberikan kinerja yang lebih baik lagi kedepannya.” Yang memajukan perusahaan adalah seluruh pegawai itu sendiri, kepada seluruh pegawai PDPPJ semoga kedepannya kinerja kita semua lebih baik lagi, salah satu dorongan semangat dan motivasi diri adalah dengan mendengarkan tausiyah setiap satu bulan sekali seperti ini agar rohani seluruh pegawai dapat terisi dengan ilmu yang bermanfaat,” kata Jenal.

Pada kesempatan pengajian tersebut, tausyiah agama disampaikan oleh Ustadz Yudin Taqiyudin atau yang akrab disapa Gus Taqi. Dalam tausiyahnya menyampaikan tema bagaimana meneladani Rasulullah SAW dalam ibadah dan profesionalitas serta etos kerja. Meneladani (teladan) / tauladan = anak. Seorang anak pasti mengikuti contoh ayah dan ibunya (duplikasi-red). Mengamati contoh dan mengulangi perilaku yang dilakukan oleh contohnya bukanlah sekedar hal yang sederhana, pembelajaran tersebut juga meliputi 4 komponen yaitu atensi (perhatian), retensi, reproduksi dan motivasi. 

Komponen pertama adalah atensi / perhatian. Pada umumnya, ayah dan ibu memberikan perhatian pada panutan yang memikat, berhasil, menarik, dan popular. Ada dua sifat yang perlu ada dalam diri manusia yaitu qana’ah dan zuhud. Qana’ah adalah sifat menerima seberapapun rezeki yang diberikan oleh Allah SWT atas semua usaha yang sudah kita lakukan dan merasa cukup tanpa adanya sikap mengeluh. Rasulullah SAW sejak dahulu sudah mengajarkan kepada seluruh umat muslim untuk menerapkan sifat qana’ah dalam diri mereka, selalu ridha terhadap semua masalah yang tengah mereka hadapi yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Sementara zuhud adalah meninggalkan ketamakan dalam urusan keduniaan sehingga lupa ketaatan kepada Allah SWT serta lengah untuk mencari bekalan hidup diakhirat nanti.

Komponen kedua adalah  retensi / pengingatan, agar dapat mengambil manfaat dari perilaku panutan yang telah diamati, seorang yang melihat panutannya harus dapat mengingat apa yang telah dilihatnya. Dia harus mengubah informasi yang diamatinya menjadi bentuk gambaran mental, atau mengubah simbol-simbol verbal, dan kemudian menyimpan dalam ingatannya. Akan sangat membantu apabila kegiatan yang ditiru segera diulanginya atau dipraktekkan setelah pengamatan selesai. yang melihat panutannya tidak perlu melakukan pengulangan atau mempraktekkan secara fisik tetapi dapat saja secara kognitif, yaitu membayangkan, memvisualisasikan perilaku tersebut dalam pikirannya.

Sambung Ustadz Yudin, komponen ketiga adalah reproduksi, komponen ketiga dalam proses pengamatan adalah mengubah ide gambaran, atau ingatan menjadi tindakan. Umpan balik terhadap hasil belajar dalam bentuk perilaku yang diperlihatkan oleh pengamat dapat menjadi alat bantu yang penting dalam proses ini.

Sementara komponen keempat atau komponen terakhir  adalah motivasi, dalam proses pembelajaran pengamatan ialah motivasi lillahi ta’ala, Lillahita’ala secara sederhana dapat kita artikan dengan “hanya karena Allah SWT yang suci”. Kalimat ini bukan hanya menjadi menjadi ungkapan lisan tapi seharusnya menjadi prinsip dalam hidup dan kehidupan setiap hamba kepada Allah SWT yang hidup didunia ini.

(gft)

 

 

 


Author: Admin


Tags:

Bagikan